Galau di Facebook

Cerpen - Sesal

oleh: emboeng arishinta poetra

 Di mana aku?
Sejak tadi tidak ada orang yang aku kenali, satupun tidak bisa aku ajak bersapa. Di mana sebenarnya aku? Apa yang telah tejadi dan siapa yang membawaku ke tempat ini? Aku bingung menentukan jalan, entah pada siapa harus aku tanyakan. Lorong ini begitu gelap, tidak ada cahaya hanya sebuah pintu yang paling dekat denganku yang bisa aku lihat. Tiba-tiba saja ada suara yang memanggilku dari balik pintu itu, “Rianti, kemarilah. Saya sudah menunggumu sejak lama.”
Aku membuka perlahan pintu itu, ku intipkan wajahku ke dalam. Ruangan itu sangat terang walau hanya terdapat satu lampu yang tergantung di plapon tepat di atas menja. Ada seorang ku lihat duduk membelakangi meja itu, dia menggenakan pakean seperti seorang hakim lengkap dengan palunya. Setelah aku dipersilakan duduk di depan sisi meja lainnya, ia berbalik dan memandangku. “Kaukah yang bernama Lastri Rianti?” kata orang itu dengan sangat berwibawa. Aku tertegan penuh takut dan begitu kaget hingga aku hanya menjawab pertanyaannya dengan menggangguk.
“Coba jelaskan mengapa engkau bisa ada di sini?” katanya lagi,
“Aku tidak tahu, aku melupakan semua yang pernah terjadi.” jawabku dengan lugu.
“Apa kau tahu ini di maman?”
“Tidak tuan”
“Seharusnya kau tahu, sejak tadi aku mengetahuimu sedang tidur di luar sana.”
“Aku sudah katakan, aku melupakan semuanya. Ini di mana?”
“Apa kau tidak ingat sama sekali?”
Aku memutar pikiranku, mencoba mengais sisa kenangan yang masih tersisa. Sedalam mungkin pikiran ku selami, sampai akhirnya aku mulai mengingat sesuatu. Aku mulai sadar, terakhir kali aku terjaga, aku masih berada di sebuah desa pedalaman yang aku datangi beberapa bulan yang lalu. Ya, aku yakin terakhir kal aku mengenakan seragamku dan bertemu dengan anak-anak di sekolah. tetapi kenapa aku bisa ada di sini? tempat apa ini? Aku semkain bingung, akutatap orang yang berada di hadapanku. Ia hanya terlihat tersenyum kepadaku, lantas aku menanyainan, “Di mana ini?”
Orang di hadapanku tiba-tiba berdiri dan mengambilkan sesuatu di sebuah rak dekat meja itu. Sambil berjalan aku terus menanyainya, “Di mana aku? tempat apa ini? siapa kau?” orang itupun kembali ke tempat duduk dan menjelaskannya kepadaku bahwa ia adalah hakim penentu surga dan neraka. Aku sangat kaget ketika menjelaskan bahwa namaku sudah tercatat di barisan paling akhir sebagai kandidat penghuni surga atau neraka. Tanpa aku tahu ternyata aku sudah mati, hari ini aku telah berada di pintu surga dan neraka. Aku akan di adili di sini atas apa yang pernah aku lakukan.
orang di hadapanku mengetukkan palu yang dibawanya sebagai dimulainya persidangan. Ia mulai bertanya, “Kenapa kau bisa mati?” wah ini pertanyan yang sangat sulit dijawab, karena hanya sedikit yang bisa aku ingat,
“Saya tidak tahu, tuan.” jawabku dengan takut.
“Apa yang kamu tahu, ceritakanlah!”,
“Baik tuan, saya akan mencoba menceritakan apapui yang bisa saya ingat.
Aku kembali mengais sisa-sisa ingatan yang masih tersimpan dalam otak, dan aku mulai menceritakannya kepada hakim yang dududk di hadapanku. Aku adalah mahasiswi yang baru saja menyelasikan kuliahku di sebuah universitas tinggi di daerah Bali. Aku menamatkan diri dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Setelah lulus, aku datang ke sebuah desa terpencil untuk menjadi guru di sana. Kata temanku, aku adalah wanita pemberani, karena berani mengambil resiko besar utnuk datang ke desa yang tidak terjamah bahkan oleh indahnya sinar matahari. Tetapi kenapa aku bisa mati, bahkan aku tidak percaya secepat ini aku pergi.
Aku menceritakan semuanya kepada hakim itu. Aku menangis, aku merindukan teman-temanku, aku menrindukan orang tuaku, dan aku menrindukan tanah kampung halamanku. Aku ingin pulang, tetapi sayangnya aku telah berada dalam persidangan ini. Entah apa yang membuatku mati, aku tidak tahu, karena aku merasa aku masih hidup. “Rianti, ini baru saja di mulai, mengapa kau menangis?” tanya hakim itu kepadaku. Aku tidak menghiraukannya, aku masih menangis tersedu. kembali ia bertanya, “Apa kau tahu apa yang menyebabkan kau mati?”
“Tidak!” jawabku singkat
“Apa kau ingin tahu?”
“Tentu!”
“kalau kau ingin tahu, tolong sudahi tangismu!”
Hakim di hadapanku kemudian menyalakan sebuah tab dan memulai sebuah rekaman vidio dan memberikan tab itu kepadaku. “Lihatlah dalam rekaman itu, kau akan tau penyebabmu ada di sini!” aku memerhatikan dengan seksama rekaman itu, tidak ku lewatkan sedetikpun. Dalam rekaman itu aku melihat beberapa aparat desa yang datang kr pondok kecilku, ada sekitar lima orang di depan rumahku. Ada seseorang yang mengetuk pintu hingga aku membukakannya pintu dan mengajak mereka masuk kedalam pondokku. Aaaahhh, aku mulai mengingatnya, kejadian ini sekitar tiga hari yang lalu.
Saat itu grimis menyelimuti sebuah pergantian senja. Aku sangat terkejut dengan kedatangan beberapa aparat desa ke tempatku. Aku menanyakan tujuan kedatangan mereka, tiba-tiba seorang dari mereka mendekapku dengan erat dua orang lainnya mengikat tanganku. Hujan di luar semakin terdengar deras di telinga menutupi suara teriakanku. Entah apa yang akan mereka lakukan padaku, tidak ada yang bisa aku perbuat karena aku sendiri, berteriakpun akan sangat sia-sia. jarak rumahku dengan rumah lainnya sangat berjauh-jauhan dan saat itu aku di kerjai sepuluh tangan yang menyekapku dalam ketakutan.
dalam video rekaman itu aku melihat tubuhku yang msih mulus dankencang dijilat oleh kelima aparat desa itu secara begantian. Aku mnggelinjang, aku mencoba melepaskan diri dari ikatan, namun sayangnya aku hanya perempuan yang lemah sedangkan yang ku hadapi adalah lima laki-laki hitam legam yang tenaganya sangat kuat. Aku pasrahkan diriku pada waktu, kelima laki-laki biadap itu kemudian merobek-robek pakaian yang aku kenakan. Aaahh, aku sangat malu melihat diriku sendiri dalam rekaman itu, kemudian kelima laki-laki itu menggilirku dengan rata. Mereka memang benar-benar keji, setelah mereka terpuaskan, mereka melepaskan ikatan di tanganku lalu meninggalkanku begitu saja.
“Bagaimana, kau sudah puas menonton adegan itu?” tanya hakim itu,
“Ya, aku baru ingat penyebab kematianku.”
“Bisa kau ceritakan padaku!”
“Baiklah”
Setelah kejadian pemerkosaan itu aku menjadi kalut, pada siapa harus ku adukan diriku. Aku tidak bisa menghubungi keluargaku, karena tidak ada jaringan selular di tempatku itu. Aku semakin bingung dan takut, aku ingin ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian itu, namun kantor polisi tidak tersedia di daerah itu. Sempat aku mengadu pada masyarakat terdekat, malah aku yang disalahkan karena di anggap melawan aparat. aku bingung, kalut, dan takut. Aku berlari ke sebuah bukit membawa handphoneku, aku mencari jaringan agar bisa menghubungi keluargaku atau kekasihku di kampung halaman.
Aku berusaha menelepon orangtuaku, namun tidak ada jawaban. Dalam kalut aku imencoba menghubungi kekasihku dan aku berhasil. Namun ada yang berbeda dari suara di balik maya sana. Suaranya berubah menjadi seperti perempuan, “halo ini siapa?” suara itu terdengar dari telepon. “Ini memang suara perempuan!” pikirku penuh gundah. Aku membunuh panggilan itu, aku semakin terhunus dari derita. Tiba-tiba Hpku berdering, ada sebuah pesan di terima di Hpku, pesan itu dari Hendrik, “Ti, akhirnya kau menghubungiku. dari beberapa minggu yang lalu aku mencoba menghubungimu, karena ada sesuatu yang harus aku jelaskan padamu. Begini, aku tidak bisa menunggu lebih lama, aku harus cepat menikah, karena semua sudah menuntutku untuk menikah. Bulan depan aku akan menikah dengan salah seorang sahabamu dulu. relakan aku Ti, semoga kau bisa meraih cita-citamu menjadi PNS dan segeralah menyusul.”
Aku berteriak melepaskan tangis, langkahku berat sekali untuk berjalan pulang. aku berhenti di ujung bukit itu, aku memandang senja yang aku suka yang ternyata tidak lebih indah dari senja seorang anak kecil yang baru saja bisa mandi sendiri. aku menyesal telah ada di sini.
READ MORE - Cerpen - Sesal

Cerita Pendek - Dilema

Dilema

oleh: emboeng arishinta poetra

Masih aku menunggu balasan surat yang tidak kunjung datang ke padaku. Menjelang pagi aku ditemani hujan dari luar jendela dan bisikan nyanyian sendu ku resapi begitu dalam. "Kapan?" Aku semakin bertanya tentang lukisanku yang tak pernah usai tanpa kedatangannya. Hanya sebuah nama hingga saat ini masih ku nanti. "Ririn, kini aku begitu lelah hanya melukismu dengan makna hampa. Aku ingin pelukmu tanpa harus kau suguhkan luka untukku." Rintihku dalam hati ketika subuh semakin tua, lalu aku mulai terlelap tanpa ku hilangkan ingatanku tentang sebuah nama itu.

...

"Apa yang harus aku lakukan? Sebenarnya aku sangat tak ingin membuatmu terluka. Deri,  maafkan aku atas ketidakpastian ini." Aku semakin berpikir tentang perasaannya setiap malam hingga subuh yang menyurutkanku pada kantuk. Surat dengan lembaran kertas buram itu begitu membayangiku tentang ketulusannya yang begitu besar untuk mencintaiku. Ia memang lelaki yang kelam dengan kepolosannya, bahkan ia mampu membangunkanku dari lusuhnya masa lalu. "Deri, semoga kau masih setia atas namaku. Ketika aku datang sambutlah aku dengan pelukan erat dari titik pusar kerinduanmu." Aku berdoa untuk bisa bersamanya lagi.

Berbulan-bulan sudah aku tidak bekerja, aku merasa sangat menyusahkan orang tuaku. Pagi nanti aku memutuskan untuk mencari pekerjaan baru sembari melumpuhkan lamunan lalu.

...

Pagi hari bercerita tentang cerah yang menggantikan pekatnya gelap subuh dalam hujan. Nada penantian serta seorang yang merindu mengalunkan kisah baru pada hari yang masih menjadi ketidakpasitian itu. Sesekali ada saja ingin yang membuatnya semakin dalam pelukan yang tak terlepas. Keduanya adalah serpihan hati dalam bimbang tanpa jawab. Pagi ini keduanya sedang mencoba dengan gigih melepas lelahnya. Meski dalam ketidakpastian, Deri dan Ririn masih berlabuh dalam setia dengan dirinya masing-masing.

Di meja makan, orang tua Deri sedang membicarakan anaknya, "Ma, Deri sudah bangun? Anak itu semakin aneh saja aku lihat." Tanya ayah Deri pada istrinya. "Aku juga tak mengerti juga, aku semakin prihatin dengan keadaannya." Sahut istriya. "Coba mama bangunkan dia, ajak dia sarapan bersama kita!" Ayah Deri menyuruh istrinya membangunkan anaknya. "Iya yah, tunggu sebentar ya!" Jawab istrinya lalu menuju kamar Deri.

...

Aku terbangun di antara puluhan kicau burung peliharaan ayah yang dengan merdu menyapa keterasinganku, "Hari ini begitu cerah, tentu tak secerah hatiku." Aku berpikir begitu buruk tentang diriku sendiri. Entah berapa bulan sudah aku menunggu seorang dalam lamunan masalalunya? Munkin memang bodoh, tetapi aku memang cinta.

"Ri, sayang. Makan dulu yuk, kamu selalu bungkam dalam duniamu. Menanti juga perlu tenaga. Ayo cepat keluar, ayah sudah menunggumu di dapur!" Mama memanggilku dari luar kamar. "Iya ma, aku akan keluar sebentar lagi. Tunggu sebentar!" Sahutku dan segera beranjak mencuci wajahku lalu menuju dapur untuk sarapan pagi bersama mama dan ayah.

Sepasang suami istri yang biasa ku panggil mama dan ayah menyambutku di meja makan dengan senyum yang tulus. Aku berusaha membalas senyum mereka, karena aku tak ingin membuatnya kecewa. Mereka begitu mengetahui persoalan yang sangat membelengguku dan mereka selalu mencoba menghiburku.

"Sudahlah Ri, kali ini hanya ada dua pilihan saja. Berlari atau kau akan tetap tinggal di halte tempatmmu menunggu!" Kata ayahku dalam percakapan di meja makan."Iya ayah, terimakasih ya. Aku mengerti sekarang. Aku mohon doa dari ayah dan mama." Sahutku kepada ayah dan mamaku. Mereka tersenyum tanda setuju."Bawa dia kemari. Tentu kau bisa nak, karena mama percaya denganmu. Mama akan selalu merestui dan mendoakanmu." Tegas mama ke padaku.

Aku merasa sangat bersemangat pagi ini, aku pergi meninggalkan mereka. Aku telah bertekat mendapatkan cintaku hari ini. "Aku akan datang ke rumahnya!" Pikiranku dengan cepat dan tegas membuatku semakin bersemangat.

...

Pagi tiba, aku mulai mencecap segarnya hari yang indah. Aku berseri membawa diriku pada pemandian. Membersihkan seluruh tubuhku dan membasuh segala luka yang melekati batin. "Semoga hari ini aku lebih baik." Doaku pagi ini. Hari ini aku berharap mendapatkan pekerjaan yang layak dan mulai merangkai kehidupan yang tepat.

Baru saja aku ingin keluar dari kamarku, tiba-tiba benakku terhenti di bayangan nama Deri. Aku menemukan lukis bayangnya dari kertas buram dengan tulisannya yang ku tempel di dinding kamarku. Aku merasa rindu kepadanya, mungkin aku mulai ingin menjadikannya cinta.

Ingin aku temui, tetapi tak tau caranya. Pertemuan yang singkat dulu membuatku tak metahui apapun tentangnya, bahkan nomor ponselnya. Aku berharap suatu saat nanti ia menjemputku lagi dengan kejutannya di rumah merah ini. Aku menghentikan imajiku, aku beranjak dari kamar dan meninggalkan rumah itu perlahan.

Aku melamar pekerjaan di sebuah toko untuk menjadi pelayan, aku diterima dengan cepat, karena toko ini kebetulan adalah milik pamanku. Meski begitu, aku tetap di perlakukan sama seperti karyawan lainnya. Aku sangat senang, bisa bergelut dengan dunia baru.

...

Angin terasa kencang dari atas motorku. Ku pacu motorku dengan kecepatan tinggi, berharap dengan cepat aku tiba di rumah Ririn. Satu demi satu penguna jalan ku lalui tanpa ku pikirkan perasaannya. Aku ingin Cepat bertemu dengan pemilik nama Ririn, rindu ini begitu mencari puncak dambanya.

Ketika tiba nanti aku akan memeluknya, aku akan membawanya pulang. Ayah dan mama akan tersenyum lebar melihatku segera beranjak ke pelaminan dengan pilihanku. "Tentu aku kan bahagia." Hayalku di atas motorku.

Aku tiba di rumahnya, ku dapati rumahnya begitu kosong dan yang ku lihat hanya bangku-bangku yang dulu ku tau berfungsi di malam hari. "Kemana orang-orang di rumah ini?" Hatiku bertanya-tanya sendirinya, "Ahhh mungkin ia sedang keluar sebentar." Pikirku lagi dan duduk menunggunya. Hari ini sudah siang dan aku masih menunggu Ririn pulang. Dengan sabar aku menunggu kedatangannya, hingga senja menyapa di barat.

...

Di rumahnya, orang tua deri menanti anaknya pulang membawa kabar, "Ma, aku berharap kali ini Deri pulang dengan bahagianya."Kata ayahnya. "Iya yah, akupun brharap sperti itu." Sahut istrinya. " Tapi kenapa lama sekali ya ma?" Tanya ayah deri agak cemas, "Aku tidak tau yah, mungkin mereka sedang bercengkrama melepas rindunya." Jawab istrinya dengan senyum.

Senja membuat sebuah harapan pada petang yang samar-samar memeluk keluh dan cemas. Orang tuanya masih sabar menunggu anaknya pulang, begitupula dengan Deri yang masih sedia menunggu pujaannya pulang.

...

"Lama sekali ia datang." Pikiranku makin berkecambuk tentangnya. "Apa dia masih seperti yang dulu?" Pikiranku mulai merusak niat baikku. Kali ini ku dengar suara mobil masuk rumah di tempatku menunggu, tetapi aku malah pergi dengan kecewa ku bungkus sebagai oleh-oleh kepada orang tuaku.

...

Aku sangat terkejut melihatnya ada di depan rumahku, aku ingin memeluknya lalu mengatakan cinta kepadanya. Baru saja aku turun dari mobil sedan itu, belum sempat aku berkata, ia pergi begitu sja meninggalkanku.

...

Aku melihatnya dengan seorang lelaki, entah siapa lelaki itu. Aku hanya menatapnya dengan penuh kesal, tanpa membalas senyumnya. Ia heran dengan kepergianku. "Ternyata ia masih seperti yang dulu." Pikirku hingga mengharuskanku pergi dari tmpat itu.

...

Aku mulai mengerti dengan kepergiannya itu, aku meminta pamanku mengejarnya. Aku yakin ia masih berpikir tentang gelapnya masa laluku. "Pamanku pasti dikiranya orang yang menyewaku." Aku menemukan jawaban dari kepergiannya yang cepat itu.

...

Ayah dan mamanya langsung keluar rumah menyambuat anaknya ketika suara motor Deri memenuhi ruang telinga kedua orang tuanya itu. "Bagaimana nak?" Tanya ayahnya. Deri tak menjawab dan semakin membuat ayahnya bingung.Deri yang terdiam langsung saja meninggalkan ayah dan mamanya menuju ke kamar.

Tak lama kemudian Ririn dan pamannya tiba di rumah Deri. Ayah Deri semakin bingung dengan semuanya. Dijelaskannya kesalahpahaman itu oleh paman Ririn, lantas Ririn menuju kamar Deri menyusul kekasihnya itu.

...

"Aku mencintaimu Deri, bahkan aku sangat merindukanmu. Ini hanya salah paham, laki-laki tadi adalah pamanku. Kalau tidak percaya tanyalah padanya langsung. Aku hanya kebetulan pulang bersamanya, karena aq sudah bekerja di tokonya sekarang." Aku berusaha menjelaskan semua pada Deri. Aku lihat ia menatapku, aku sangat merasakan kerinduannya dan aku sangan menunggunya memelukku.

...

Ririn tiba-tiba masuk kamarku, aku sangat terkejut. Ia menjelaskan semua tentang apa yang aku lihat tadi dan satu yang paling membuatku bahagia, ia mengatakan cinta kepadaku. "Aku juga mencintaimu.". Jawabku atas pernyataannya.

...

Di sudut dengan percakapan seadanya dan sederhana kedua keluarga itu duduk dalam satu sofa menikmati malam yang baru saja dimulai setelah senja di lewati dengan petang.
READ MORE - Cerita Pendek - Dilema

Postingan Lama