Bali

Porsenijar Jembrana 2013 Digelar

Untuk menjaring atlet-atlet yang tangguh menjelang Porprov Bali yang bakal dilaksanakan bulan September 2013 nanti, Pemkab Jembrana melalui Dinas Dikporaparbud, kembali menggelar Pekan Olahraga dan Seni Pelajar (Porsenijar) Tahun 2013. Selain untuk mencari atlet tangguh, Porsenijar juga diarahkan untuk melestarikan seni budaya adiluhung yang tumbuh dan berkembang di Jembrana maupun Bali.

Gelaran Porsenijar Kabupaten Jembrana yang kembali dibangkitkan sejak kepemimpinan Bupati Jembrana I Putu Artha, Jumat (26/4) kemarin resmi dibuka Bupati Artha di Stadion Pecangakan Jembrana, yang ditandai dengan pelepasan balon udara dan burung merpati. Sebanyak 3.800 atlet dan 453 seniman pelajar tingkat SD, SMP dan SMA atau yang sederajat terlibat dalam Porsenijar Jembrana tahun ini.

Menurut Ketua Panitia yang juga Plh. Kadis Dikporaparbud I Made Sudiada, Porsenjar tahun 2013 kali ini mengambil tema, melalui porseni pelajar Kabupaten Jembrana Tahun 2013 kita tingkatkan pembinaan olahrga dan seni budaya pelajar sebagau ajang peningkatan prestasi menuju masyarakat Jembrana yang sehat dan berbudaya. Sudiada juga menyebutkan, dalam porsenijar ini sebanyak 16 cabang olahraga bakal dipertandingkan, diantaranya atletik, sepak bola, bola volley, sepak takraw, pencan silat, basket, bulu tangkis, tenis meja dan lapangan, renang, catur, panjat tebing, judo, volley pasir dan karate. Selain itu khusus untuk kesenian yang dipertandingkan adalah beberapa tarian bali, mesatua bali, macepat, melukis , menyalin huruf latin ke aksara bali termasuk dharma wecana. “ Porsenijar ini akan menjadi agenda rutin Pemkab Jembrana setiap tahun untuk memberikan kesempatan kepada atlet dan seniman meraih prestasi “ kata Sudiada. 


Sementara itu Bupati Jembrana I Putu Artha meminta kalangan pelajar untuk menggunakan ajang porsenijar ini sebagai alat untuk mengukur dan menambah kemampuan di bidangnya. “ Rebutlah prestasi secara sportif karena kemenangan dan keberhasilan harus diperoleh dengan perjuangan dan kerja keras “ kata Artha. Ia menambahkan, prestasi yang diperoleh jangan terhenti saat kegiatan porsenijar berakhir. Bila perlu menurut Bupati penggemar sepak bola ini, prestasi olahraga dan seni kelak bisa dijadikan sebagai profesi dan sumber kehidupan di masa mendatang.

Pembukaan Porsenijar Kabupaten Jembrana kemarin diisi dengan defile oleh kontingen dari lima kecamatan dan diikuti oleh seluruh kontingen dari berbagai sekolah di Jembrana. Opening ceremony juga dimeriahkan dengan Tari Bakti Marga oleh gabungan siswi SMA Negeri 2 Negara dan SMA Negeri 1 Negra dan Senam Pramuka yang diikuti oleh 250 siswa dan siswi SMP Negeri 6 Negara. Nampak hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, Ketua DPRD Kabupaten Jembrana I Ketut Sugiasa, Ketua Pengadilan Negeri Negara I Made Paek. (02.hmj

sumber : Humas Jembrana
READ MORE - Porsenijar Jembrana 2013 Digelar

Info Beasiswa Pendidikan Mahasiswa Kabupaten Jembrana bulan Januari - Juni 2013

Bagi para mahasiswa yang sudah mendaftarkan diri sebagai penerima Bantuan Beasiswa Pendidikan Mahasiswa Kabupaten Jembrana periode Januari - Juni Tahun Anggaran 2013, Dapat melihat pengumumannya DISINI!!!
READ MORE - Info Beasiswa Pendidikan Mahasiswa Kabupaten Jembrana bulan Januari - Juni 2013

Menelisik Sentimen Anti-Bali di Perantauan

Salah satu pemicu kerusuhan sosial adalah kecemburuan akibat keberhasilan etnis tertentu. Foto ilustrasi Oyos Saroso.


Kenapa orang Bali di perantauan jadi sasaran?
Dua kerusuhan yang menimpa orang Bali perantauan (migran) dalam kurun waktu empat bulan tentu mengundang perhatian. Ada apa dengan warga perantauan asal Bali?
Kejadian pertama pada akhir Oktober 2012 di Lampung Selatan. Empat belas orang meninggal akibat kerusuhan itu. Rumah-rumah penduduk Bali yang bermukim di Desa Balinuraga dibakar, termasuk rumah ibadah. Tidak terhitung kerugian material akibat kerusuhan yang kabarnya disulut persoalan sangat sepele ini.
Hingga kini, tidak pernah ada kejelasan apa yang sesungguhnya menjadi penyebab kerusuhan. Kita mungkin harus menunggu ada sebuah penelitian mendalam dan serius mengapa terjadi konflik di daerah ini. Yang jelas, kerusuhan ini diselesaikan dengan perdamaian. Namun, perdamaian ini terasa sumir. Pihak penyerang maupun korban sepakat untuk tidak saling menuntut. Selain itu mereka sepakat untuk ‘menjaga keamanan, ketertiban, kerukunan, keharmonisan, kebersamaan, dan perdamaian antarsuku.’
Tentu kemarahan dan kepedihan tidak akan hilang begitu saja. Karenanya tidak ada jaminan konflik serupa tidak akan berulang.
Kerusuhan sama berulang. Kali ini meledak di Sumbawa Besar antara penduduk lokal etnis Semawa dengan penduduk perantauan asal Bali. Kabarnya, toko Dinasti, sebuah toko lumayan besar untuk ukuran daerah setempat, dijarah. Hotel Tambora yang berdampingan dengan Toko Dinasti juga dibakar. Beberapa suratkabar memberitakan rumah-rumah milik orang Bali juga dibakar, toko-toko dijarah, dan rumah ibadah dirusak. Tidak ada korban jiwa dalam kerusuhan ini.
Penyebabnya pun sepele. Ada dua orang menjalin cinta. Yang pria adalah polisi dari Bali. Yang perempuan mahasiswi penduduk lokal. Kebetulan mereka berboncengan dan kecelakaan. Keluarga perempuan curiga bahwa telah terjadi pemerkosaan sebelumnya. Masyarakat pun panas. Mereka mengadili dengan caranya sendiri.
Kerusuhan kali ini membangkitan ingatan akan kerusuhan di tahun 1980. Penyebab kerusuhan ketika itu adalah perkelahian antara pemuda dari etnik Semawa dengan pemuda Bali. Ada pula yang menyebutkan kerusuhan bermula dari banyaknya kawin lari antara pemuda Bali dengan gadis etnik Semara. Ada juga berita bahwa pemicunya adalah ditemukannya bungkusan berisi daging babi di Mesjid. Tentu, mudah untuk mengaitkan daging babi dengan orang Bali.
Tetapi penyelidikan mendalam yang dilakukan kemudian menyatakan bahwa kerusuhan itu karena politik lokal — persaingan untuk menjadi bupati.
Dua kerusuhan yang menimpa orang Bali perantauan dalam kurun waktu empat bulan tentu menimbulkan pertanyaan. Ada apa dengan orang Bali perantauan? Mengapa orang Bali yang menjadi sasaran? Bukankah orang Bali dikenal sebagai peratau yang tidak agresif, yang low-profile? Kenapa mereka disasar?
Kalau pertanyaan ini diajukan kepada saya, terus terang, jawaban saya adalah, “tidak tahu!” Akan tetapi pengalaman saya belajar dan meneliti kekerasan komunal dan kekerasan atas nama agama selama ini mungkin bisa dipakai untuk (paling tidak) membikin dugaan tentang apa yang terjadi.


Pangkalnya
Mari kita mulai dengan diktum: semua kekerasan komunal itu akarnya adalah politik. Itu hal pertama dan terpenting yang saya pelajari. Kekerasan komunal (termasuk di dalamnya kekerasan atas nama agama) sangat terkait dengan politik baik lokal maupun nasional. Umumnya ini adalah hasil pertarungan kekuasaan di kalangan para elit politik.
Di atas, kita sudah melihat bahwa kerusuhan yang menimpa masyarakat Bali perantauan di Sumbawa tahun 1980an adalah akibat dari pertarungan kekuasaan untuk menjadi bupati. Kerusuhan itu terjadi bahkan pada saat puncak kekuasaan Orde Baru di mana sentralisasi begitu ketat. Saat itu, unjuk rasa dan segala macam protes juga dilarang.
Tidak terlalu sulit untuk mengambil kesimpulan bahwa politik di Lampung Selatan saat ini juga penuh dengan masalah. Daerah ini mengadakan Pilkada pada Juni 2010 yang dimenangkan pemuda Rycko Menoza. Ayah sang bupati baru ini adalah Komisaris Jendral Pol. (Pur.) Sjachroedin ZP. Dan orang ini pada saat yang sama menjabat sebagai Gubernur Lampung.
Sementara Sjachroedin ZP sendiri adalah anak dari mantan orang kuat Lampung pada zaman Orde Baru yakni Zainal Abidin Pagaralam yang adalah Gubernur Lampung periode 1966-1973. Jadi Rycko sesungguhnya adalah cucu dari Zainal Abidin Pagaralam. Saudara Rycko lainnya, Handitya Narapati SZP, saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Kab. Pringsewu, juga di Provinsi Lampung. Dinasti Zainal Abidin Pagaralam menguasai perpolitikan di Lampung selama beberapa tahun terakhir ini.
Sebagai bupati Rycko Menoza dikenal kontroversial. Salah satu kebijakan bupati yang juga pernah menjadi aktivis Pemuda Pancasila dan KNPI ini adalah membangun patung kakeknya. Pembangunan patung senilai Rp 1,5 milyar ini memicu kemarahan massa-rakyat karena dana pembangunannya diambil dari APBD. Akhirnya, setelah tiga bulan berdiri, pada 30 April 2012, patung itu dirobohkan massa.
Patung itu diruntuhkan persis seperti penduduk Baghdad meruntuhkan patung Saddam Hussein setelah kota itu jatuh ke tangan pasukan pendudukan Amerika. Warga mengikatkan tali baja di leher patung dan menariknya dengan tali baja.
Tidak itu saja. Lampung Selatan masih dilanda kerusuhan pada bulan-bulan selanjutnya. Pada 2 Juli 2012, massa kembali mendemo Bupati yang dinilai melontarkan ucapan-ucapan menghina tokoh-tokoh adat. Massa melakukan demonstrasi di lapangan Raden Intan Kalianda. Massa diorganisir Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) cabang Lampung Selatan dan Forum Lampung Selatan (Forlas) Bersatu bersama lima tokoh adat dari lima marga di Lampung Selatan.
Mereka berhasil memaksa Bupati untuk meminta maaf kepada tokoh-tokoh adat. Namun setelah itu, Bupati mendapat caci-maki, lemparan batu dan botol. Massa kemudian memblokade jalur jalan Trans-Sumatra dan membakar gedung-gedung pemerintahan.
Situasi sosial dan politik yang panas inilah yang menjadi latar belakang konflik sosial pada bulan November yang melibatkan penduduk lokal dan penduduk Bali perantauan.
Kita belum tahu apa yang melatari kerusuhan terakhir di Sumbawa ini. Akan tetapi kita tahu bahwa politik di Sumbawa juga cukup panas. Banyak isu panas silih berganti bergejolak di pulau ini. Misalnya isu penolakan tambang PT Newmont, kasus-kasus tanah, hingga ke demo-demo mahasiswa. Pada 24 Desember 2011, dalam demonstrasi dan blokade terhadap pelabuhan Sape di Kabupaten Bima, dua orang meninggal dan 20 lainnya luka-luka.
Ada pula rencana untuk menuntut agar pulau Sumbawa menjadi provinsi tersendiri. Mereka ingin lepas dari NTB yang diangap didominasi orang-orang Sasak. Gejolak demi gejolak seperti ini selalu menjadi prolog (pendahuluan) kekerasan komunal. Ibaratnya letusan gunung berapi selalu didahului oleh gempa-gempa pendahuluan.
Namun, sesungguhnya sulit mencari hubungan langsung antara gejolak politik lokal dengan kerusuhan sosial. Seringkali analisis model seperti ini jatuh ke dalam teori konspirasi. Kita hanya bisa melihat tanda-tandanya. Kita juga bisa tahu dengan mudah siapa kira-kira yang diuntungkan dan dirugikan oleh kerusuhan-kerusuhan ini.


Sasaran
Setiap kekerasan komunal pasti memiliki korban. Korban paling besar selalu diderita oleh kelompok sasaran atau target kerusuhan. Namun, masalahnya: masyarakat itu terdiri dari berbagai macam kelompok tetapi hanya kelompok tertentu yang menjadi sasaran. Pertanyaannya kemudian: mengapa?
Untuk menjawabnya, mari kita tengok konstelasi demografis dan bagaimana orang Bali perantauan dalam komposisi demografis di kedua daerah di mana kerusuhan ini meletus.
Menurut Sensus Penduduk tahun 2000 (SP 2000), satu-satunya sensus yang menyajikan data etnik, komunitas Bali perantauan di Lampung jumlahnya sangat kecil. Dalam sensus terbuka, di mana setiap orang mengidentifikasikan etniknya, mereka yang mengaku etnik Bali berjumlah hanya 79.612 orang (atau 0,1 persen) dari 6,646,490 jiwa penduduk Provinsi Lampung.
Saya kira, sepuluh tahun kemudian, jumlah ini tidak berubah. Sekalipun jumlah penduduk bertambah banyak, komposisinya biasanya relatif ajek. Penduduk terbesar lampung adalah etnik Jawa (61 persen dari total penduduk) dan kedua adalah Sunda (8,7 persen). Sementara penduduk ‘asli’ yakni orang Paminggir dan Pepadun berjumlah masing-masing 6,4 persen dan 4,2 persen dari seluruh populasi.
Di Kabupaten Lampung Selatan, konstelasinya tidak jauh berbeda. Menurut SP 2000, jumlah etnik Bali di sana hanya 11.937 jiwa (0,1 persen) dari jumlah total penduduk kabupaten yang 1.132.995 orang itu. Penduduk terbesar di kabupaten itu adalah orang Jawa (59,2 persen), disusul Sunda (13 persen), dan ketiga adalah etnik Peminggir, penduduk asli yang berjumlah 10,3 persen dari total penduduk.
Bagaimana keadaan di Kabupaten Sumbawa? Konstelasinya tidak jauh berbeda. Menurut SP 2000, jumlah etnik Bali disana hanya berjumlah 11.971 orang (2,7 persen) dari seluruh penduduk kabupaten yang saat itu berjumlah 444.116 jiwa. Penduduk terbesar di kabupaten itu adalah etnik Semawa yang jumlahnya 67 persen dari total penduduk, kedua adalah orang Sasak (13,8 persen), disusul orang Bugis (3,2 persen), dan orang Jawa (3,0 persen).
Setiap kekerasan komunal selalu mengemukakan isu ‘putera daerah (sons of soil) melawan pendatang.’ Namun, dalam banyak hal sulit untuk menentukan siapa putera daerah dan siapa pendatang. Banyak orang dikategorikan pendatang sesungguhnya lahir di dearah itu, tidak bisa berbicara bahasa etnik aslinya, dan mungkin mengikuti kebudayaan setempat. Namun, mereka tetap berada dalam kategori pendatang.
Di Lampung Selatan dan di Sumbawa, isu pendatang itu juga mengemuka. Namun lagi-lagi persoalannya adalah: mengapa hanya pendatang tertentu? Mengapa bukan pendatang yang lain? Mengapa pendatang Bali dan bukan Jawa, Sunda, Bugis atau yang lain? Mengapa kerusuhan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah antara tahun 1997-2001 yang menjadi sasaran adalah orang Madura? Mengapa orang etnik Tionghoa banyak menjadi sasaran kerusuhan dan kekerasan selama masa Orde Baru dan tidak lagi setelah masa reformasi?
Lagi-lagi di sini mekanisme politik bekerja. Sasaran kerusuhan selalu ditentukan dengan kalkulasi cermat. Umumnya yang menjadi sasaran adalah etnik minoritas, yang terlebih dahulu sudah memiliki bingkai prasangka (prejudices). Etnik minoritas ini mungkin memiliki keunggulan ekonomi dibandingkan rata-rata penduduk. Peranan mereka pada umumnya sebagai mata rantai terkecil dari pasar jual beli: sebagai pengecer, sebagai agen transportasi, sebagai pengumpul produksi yang akan dijual kepada agen, dan sebagainya. Mereka menjadi penghubung terendah dalam struktur ekonomi. Ini yang menyebabkan mereka berhubungan langsung dengan rakyat setempat tetapi tidak pernah menjadi bagian daripadanya.
Dari sisi golongan minoritas ekonomi ini juga ada kepentingan untuk memelihara jaringan pasar hanya di dalam lingkup kelompok etnik mereka sendiri. Ini karena persoalan kepercayaan (trust) yang pada akhirnya juga menyangkut akses terhadap kredit dan modal (capital). Orang Bali yang menjadi pedagang hasil bumi di Lampung, misalnya, berhubungan satu sama lain dengan orang Bali karena mereka bisa saling meminjamkan duit dan ada kepercayaan bahwa pinjaman ini akan dikembalikan.
Ini adalah hal yang sangat logis. Di mana-mana ekonomi pasar bekerja atas dasar kepercayaan (trust). Bank memberikan pinjaman karena percaya bahwa nasabahnya akan mampu mengembalikan. Hanya saja, jika bank melakukannya dengan ‘analisis risiko,’ dalam kegiatan ekonomi yang lebih sederhana ini dilakukan dengan hubungan kekeluargaan dan kelompok etniknya.
Selain itu, golongan yang menjadi sasaran selalu golongan paling rentan dalam konteks politik lokal. Etnik Madura digambarkan sebagai etnik yang agresif, yang mau melakukan apa saja untuk bisa berhasil, dan gemar akan kekerasan. Banyak orang agresif dan melakukan apa saja serta gemar akan kekerasan tetapi tidak menjadi sasaran kerusuhan. Karena apa? Karena mereka bukan sasaran dan tidak pernah didefinisikan sebagai sasaran.
Di Lampung juga saya dengar ada prasangka-prasangka terhadap orang Bali perantuan. Orang Bali sukses menguasai jalur transportasi dan ekonomi hasil bumi. Mereka benar-benar menjadi mata rantai terendah dalam ekonomi pasar. Akibatnya, mereka pun bersentuhan dengan rakyat biasa yang menghasilkan produksi bahan mentah dan tergantung pada jasa mereka untuk mentransportasikannya ke pasar yang lebih besar.
Sementara, di sisi yang lain, orang Bali perantauan di Lampung tidak memiliki saluran untuk ikut berpartisipasi dalam politik lokal (sama seperti orang Madura di Kalimantan sebelum kerusuhan). Akses mereka ke dalam politik bisa jadi ditutup oleh elite lokal atau karena mereka sendiri tidak berminat.
Ketiadaan akses politik ini mempermudah mereka untuk menjadi sasaran bilamana ada kefrustasian di tingkat bawah.
Dalam hal ini, orang Bali perantauan mengalami nasib persis dengan etnik Tionghoa pada masa Orde Baru. Etnik Tionghoa kerap menjadi sasaran kerusuhan sosial. Namun, kerusuhan anti-Tionghoa itu menjadi sangat jarang pada masa reformasi. Kini kita melihat kalangan etnik Tionghoa sangat aktif terlibat dalam politik. Ini yang membikin golongan Tionghoa sulit untuk menjadi sasaran dan kambing hitam dari kesulitan sosial. Masyarakat menyalahkan semua politisi, partai politik, atau bahkan negara atas kesulitan ekonomi atau keresahan sosial.
Kini kita lebih sering mendengar ‘negara atau pemerintah yang gagal’ ketimbang lemparan kesalahan pada etnik Tionghoa.
Dalam kerusuhan di Sumbawa tahun 1980, ada analisis bahwa kerusuhan akibat kecemburuan sosial dari etnik Semawa karena orang Bali menduduki jabatan-jabatan penting di birokrasi pemerintahan dan BUMN. Orang-orang Bali ini di-drop dari pemerintah pusat. Menurut saya, analisis macam ini tidak tepat. Karena mungkin banyak juga orang-orang dari suku lain menjadi dominan dalam pemerintahan tetapi tidak ada masalah. Misalnya, mengapa jika jabatan itu dipegang oleh orang Jawa, tidak akan pernah ada masalah?
Analisis kecemburuan sama sekali mengabaikan faktor-faktor politik yang kuat bekerja dalam setiap kerusuhan. Seperti saya sebutkan di atas, target atau sasaran kerusuhan dirumuskan dengan kalkulasi cermat. Umumnya ditujukan kepada etnik minoritas yang tidak memiliki perlindungan politik.
Akibatnya, dalam banyak kasus kita melihat bahwa korban kerusuhan masih selalu menanggung beban paling berat. Mereka tidak pernah mendapatkan keadilan atas jiwa yang hilang, tidak ada ganti rugi apapun atas barang milik mereka yang rusak atau dibakar, mereka harus menandatangani ‘perdamaian’ di mana mereka seringkali tidak diikutsertakan dalam perumusannya. Sistem hukum tidak mampu menjangkau para perusuh, yang menjarah, merusak, membakar, dan bahkan membunuh karena orang-orang ini terlindungi secara politik.
Sisi politik ini juga membikin kita paham mengapa aparat keamanan yang bersenjata lengkap sering kali berdiam diri dan membiarkan terjadinya kerusuhan. Aparat keamanan tidak kebal dari situasi sosial dan politik sekelilingnya. Polisi atau tentara tahu persis bahwa mereka berhadapan dengan sebuah kekuatan politik.

Partisipasi
Saya sudah menunjukkan bahwa kerusuhan sosial dan kekerasan komunal terjadi karena faktor politik. Dalam banyak hal elite-elite politik lokal baik yang berkuasa dan memerintah atau yang sedang mencari kekuasaan dan di luar pemerintahan turut terlibat. Pada akhirnya, kerusuhan dan kekerasan komunal hanya akan mengabdi kepentingan dari elite politik.
Ini terlihat tidak saja dalam berbagai kerusuhan dan kekerasan komunal di banyak negara tetapi juga di Indonesia. Mereka yang mampu menggerakkan massa-rakyat dengan segera menjadi ‘tokoh masyarakat’ yang ditakuti. Sistem politik demokrasi elektoral, seperti di India dan Indonesia, mengakui tokoh-tokoh masyarakat ini karena sangat berperanan dalam memobilisasi suara. Tapi dalam iklim otoriter pun sesungguhnya ‘tokoh masyarakat’ ini diperlukan. Para diktator dan penguasa-penguasa otoriter membutuhkan mereka untuk mengontrol massa-rakyat.
Kemudian muncul persoalan lain: Jika kerusuhan sosial atau kekerasan komunal menguntungkan para elite politik suatu kelompok komunal tertentu, mengapa massa-rakyat mau mengikuti mereka? Mengapa massa-rakyat kadang mau mengorbankan diri untuk ‘kepentingan kelompok’-nya padahal itu mungkin tidak menguntungkan dia?
Di sini para elit juga berperan untuk membingkai (framing) keberadaan massa-rakyat sebagai kelompok etnik. Ada beberapa cara yang mereka lakukan. Pertama adalah dengan memompa kebanggaan sebagai kelompok (pride factor). Kebanggaan sebagai sebuah kelompok etnik. Mungkin juga dilengkapi dengan kisah sejarah jaman keemaasan, kebanggaan terhadap bahasa dan sastra, kebanggaan terhadap warisan budaya, dan sebagainya. Setelah reformasi Indonesia, kebanggaan ini semakin mencolok karena kebangkitan kaum aristokrasi. Raja-raja dinobatkan, gelar-gelar kembali dipasang, upacara kerajaan dihidupkan kembali, dewan-dewan adat dibentuk. Bahkan, seperti di Bali, tiba-tiba ada Raja muncul sekalipun dia tidak memiliki rakyat dan wilayah. Hingga di sini, pemompaan kebanggaan kelompok sebenarnya adalah sesuatu yang normal dan sah-sah saja.
Cara kedua adalah dengan menyebarkan ketakutan dan melakukan demonisasi (penggambaran sebagai pihak yang jahat) kelompok etnik sasaran. Penyebaran ketakutan ini biasanya berlangsung secara sistematis seperti penyebaran isu-isu menyesatkan. Penyebaran ketakutan bertujuan untuk memperkuat kelompok ke dalam. Solidaritas di dalam kelompok pun terbangun dan siap dipergunakan untuk kekerasan.
Biasanya ketakutan ini dibarengi dengan pembentukan milisi-milisi, laskar-laskar, dan pasukan-pasukan yang akan membela kelompok etnis tersebut. Milisi atau laskar-laskar ini kadang tidak terbentuk dengan segera. Ia bisa dibentuk pada saat kerusuhan sebagai bagian mobilisasi ke dalam kelompok etnik.
Hal ketiga yang biasanya menjadi puncak dari meledaknya kekerasan komunal adalah penciptaan kondisi psikologis bahwa kelompok penyerang adalah korban (victimizing factor). Saya melihat ini sebagai faktor penting yang memungkinkan orang bertindak melebihi batas-batas kemanusiaan. Kondisi psikologis bahwa ‘kita adalah korban, kita selalu direndahkan, kita diremehkan, dan sebagainya’ membuat semua tindak kekerasan mendapatkan pembenaran (justification).
Perpaduan antara ketakutan bahwa kelompok lain akan menyerang dan perasaan sebagai korban akan menciptakan kekejaman yang luar biasa. Peristiwa tahun 1965 di Indonesia atau pembantaian etnik Tutsi oleh etnik Hutu di Rwanda pada tahun 1994 menunjukkan bekerjanya dua faktor ini. Juga kekerasan di Kalimantan tahun 1997-2001 di mana orang menunjukkan memakan organ tubuh lawannya, lahir dari pengkondisian secara psikologis bahwa mereka adalah korban dan tindakan brutal itu bisa dijustifikasi. Faktor-faktor ini tampaknya juga terlihat dalam kerusuhan di Lampung Selatan dan di Sumbawa.

Epilog
Tidak banyak disadari bahwa pada akhirnya, kerusuhan sosial atau kekerasan komunal justru menciptakan ikatan ke dalam (kohesi internal) yang jauh lebih kuat pada satu kelompok etnis dibandingkan dengan sebelum kerusuhan. Inilah bagian yang paling disukai oleh para elite politik dari sebuah kelompok etnis. Ikatan ke dalam yang lebih kuat berarti memberikan kekuasaan lebih besar kepada elite tersebut untuk melakukan kontrol ke dalam kelompok etniknya.
Pada akhirnya ini akan memberikan bargaining power dan akses untuk kekuasaan lebih besar. Dengan kata lain, dalam banyak kasus, kekerasan komunal memberikan insentif kepada para politisi untuk mengulanginya. Di India, seperti kata Paul Brass seorang pengamat kekerasan komunal terkemuka, kekerasan ini dilakukan berulang-kali setiap menjelang Pemilu. Brass pun menyebut hal ini sebagai ‘institutionalized riots system’ (sistem kerusuhan yang terlembaga). Dalam sistem ini ada orang-orang yang menjadi ‘riots specialists’ (ahli membikin kerusuhan) yang dipekerjakan oleh para politisi.
Di atas telah kita lihat bahwa kerusuhan sosial atau kekerasan komunal diciptakan. Kita juga telah melihat peranan elite, peranan massa-rakyat dan bagaimana kekerasan sosial berfungsi untuk menciptakan kohesi internal. Asumsi saya adalah kerusuhan sosial tidak pernah dilakukan secara spontan. Kekerasan dilakukan dengan kalkulasi matang, mengukur kekuatan, menentukan target, dan menentukan kapan saat untuk meledakkannya.
Orang Bali perantauan menjadi sasaran bukan karena perasaan cemburu penduduk lokal, atau karena mereka memiliki pengaruh di dalam pemerintahan (hal yang kontradiktif – kalau mereka berpengaruh, tentu mereka punya kekuasaan untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap komunitas mereka, bukan?). Sentimen anti-Bali di perantauan terjadi karena mereka merupakan sasaran paling lemah, tidak memiliki perlindungan dalam konstelasi politik lokal setempat.
Terakhir, saya tergoda untuk berefleksi. Adakah kemungkinan kerusuhan sosial atau kekerasan komunal terjadi di Pulau Bali sendiri, di mana orang Bali melakukan kekerasan terhadap kelompok etnik yang dikategorikan sebagai ‘pendatang yang merusak’? Kalau melihat dinamika politik Bali, dan melihat semua persyaratan terjadinya kekerasan komunal, maka kita bisa menyimpulkan bahwa semua bumbu-bumbu terjadinya kerusuhan sosial itu ada di Bali.
Tentu saja, Bali juga penuh dengan para politisi, baik sedang berkuasa atau sedang mencari kekuasaan, yang siap mengeksploitasi semua kondisi masyarakat.
Tetapi, saya kira taruhan (stakes) di Bali untuk meledakkan kerusuhan sosial sangat tinggi. Ekonomi Bali sangat tergantung pada pariwisata yang sangat peka pada gejolak sosial. Itu mungkin bisa menjadi penahan tidak terjadinya kekerasan komunal di Bali. Yang banyak terjadi adalah keroyokan pada level-level komunitas kecil-kecil. Kekerasan sosial yang menyeluruh dengan target etnik tertentu, mungkin bisa dibendung.
Namun, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Sebagai orang Bali perantauan saya hanya bisa berujar, “Jajik ping !!!!” [b]

READ MORE - Menelisik Sentimen Anti-Bali di Perantauan

Tragedi Lampung Selatan (Pray for Balinuraga)

OM Swastyastu,

Kronologis Konflik Lampung Selatan, yang mengakibatkan pengerusakan parah terhdap pemukiman warga transmigrasi asal Bali, di Desa Bali Nuraga, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan. dan korban meninggal dunia sebanyak 14 orang (4 orang warga Lampung, 10 orang warga masyrakat Bali)

Penyebab Konflik adalah FITNAH kepada warga masyarakat Bali yang dilakukan oleh oknum warga masyarakat Lampung.

---
Kronologis kejadian : Pada hari Sabtu tanggal 27 Oktober 2012 pukul 17.30 WIB telah terjadi kecelakaan lalu-lintas di jalan Lintas Way Arong Desa Sidorejo (Patok) Lampung Selatan antara sepeda ontel yang dikendarai oleh suku Bali di tabrak oleh sepeda motor yang dikendarai An. Nurdiana Dewi, 17 tahun, (warga Desa Agom Kec. Kalianda Kab. Lampung Selatan berboncengan dengan Eni, 16 Th, (warga desa Negri Pandan Kec. Kalianda Kab. Lampung Selatan).
Dalam peristiwa tersebut warga suku Bali memberikan pertolongan terhadap Nurdiana Dewi dan Eni, namun warga suku Lampung lainnya memprovokasi bahwa warga suku Bali telah memegang dada Nurdiana Dewi dan Eni sehingga pada pukul 22.00 WIB warga suku Lampung berkumpul sebanyak + 500 orang di pasar patok melakukan penyerangan ke pemukiman warga suku Bali di desa Bali Nuraga Kec. Way Pani. Akibat penyerangan tersebut 1 (satu) kios obat-obatan pertanian dan kelontongan terbakar milik Sdr Made Sunarya, 40 tahun, Swasta.
---
sumber informasi faktual : press rilis MABES POLRI
http://www.polri.go.id/berita/15831

Serangan Pertama kepada warga Masyrakat Bali di Desa Bali Nuraga :
Hari Sabtu 27 Oktober 2012. Jam 22.00 WIB Kelompok massa warga lampung menyerang pemukiman warga masyarakat Bali.
---
pada pukul 22.00 WIB warga suku Lampung berkumpul sebanyak + 500 orang di pasar patok melakukan penyerangan ke pemukiman warga suku Bali di desa Bali Nuraga Kec. Way Pani. Akibat penyerangan tersebut 1 (satu) kios obat-obatan pertanian dan kelontongan terbakar milik Sdr Made Sunarya, 40 tahun, Swasta.
---

Serangan kedua kepada warga masyarakat Bali di desa Bali Nuraga :
Hari Minggu tanggal 28 Oktober 2012 jam 01.00 WIB

---
Pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 2012 pukul 01.00 WIB, masa dari warga suku Lampung berjumlah + 200 orang melakukan pengrusakan dan pembakaran rumah milik Sdr Wayan Diase. Pada pukul 09.30 WIB terjadi bentrok masa suku Lampung dan masa suku Bali di Desa Sidorejo Kecamatan Sidomulyo Kabupaten Lampung Selatan.
Akibat kejadian tersebut 3 (tiga) orang meninggal dunia masing-masing bernama: Yahya Bin Abdul Lalung, 40 tahun, Tani, (warga Lampung) dengan luka robek pada bagian kepala terkena senjata tajam, Marhadan Bin Syamsi Nur, 30 tahun, Tani, (warga Lampung) dengan luka sobek pada leher dan paha kiri kanan dan Alwi Bin Solihin, 35 tahun, Tani, (warga Lampung), sedangkan 5 (lima) orang warga yang mengalami luka-luka terkena senjata tajam dan senapan angin masing-masing : An. Ramli Bin Yahya, 51 tahun, Tani, (warga Lampung) luka bacok pada punggung, tusuk perut bagian bawah pusar, Syamsudin, 22 tahun, Tani, (warga Lampung) Luka Tembak Senapan Angin pada bagian Kaki. Ipul, 33 tahun, Swasta, (warga Lampung) Luka Tembak Senapan Angin pada bagian paha sebelah kanan dan Mukmin Sidik, 25 tahun, Swasta, (warga Lampung) luka Tembak Senapan Angin di bagian betis sebelah kiri.
---

Puncak konflik terjadi pada hari senin, disaat puluhan ribu masa warga lampung menyerang secara serentak Desa Bali Nuraga, ekskalasi masa sebesar ini kemudian melakukan penyerangan dan pengerusakan terhadap pemukiman warga masyarakat Bali yang ada di Desa Bali Nuraga, yang mengakibatkan korban jiwa meninggal 10 orang dari warga masyarakat Bali, ratusan rumah terbakar dan dirusak.

ekskalasi masa warga lampung ini diperparah oleh pemberitaan media nasional baik cetak, digital maupun elektronik yang tidak mengklarifikasi sebab konflik kepada aparat kepolisian Polda Lampung yang telah menyidik penyebab konflik, tapi memberitakan penyebab konflik yang hanya didapat dari perorangan yang kevalidan datanya tidak dpat di pertanggungjawabkan dan berujung kepada fitnah dan semakin memperkeruh kondisi konflik

berikut adalah beberapa media pemberitaan nasional yang berhasil di copy kutipan pemberitaan nya yang sangat menyudutkan warga masyarakat Bali di Desa Bali Nuraga, tidak menutup kemungkinan pemberitaan serupa juga di muat di media media nasional yang lainnya.

1. KOMPAS.COM
---
Bentrok antarwarga ini merupakan dampak dari bentrok yang sempat terjadi pada Sabtu (27/10/2012) sekitar pukul 23.00 WIB. Hal itu bermula saat dua orang gadis Lampung dari Desa Agom yang sedang mengendarai sepeda motor, diganggu pemuda Desa Balinuraga, sehingga terjatuh dan mengalami luka-luka.
---
http://regional.kompas.com/read/2012...esa.Balinuraga

2. METRONEWS.COM
---
Salah satu warga pemilik video amatir, Dimas, menuturkan sejak pagi puluhan ribu warga dari berbagai desa berkumpul di Desa Balinuraga. Bentrok dipicu oleh pelecehan seksual.
"Dua gasis Kalianda dari minimarket dibuntuti oleh dua pemuda dari Balinuraga. Sampai lapangan Waringin kedua pemuda itu memegang payudara gadis tersebut hingga jatuh," ujar Dimas.
---
http://www.metrotvnews.com/metronews...kar-10-Tewas/6

3. NEWS.detik..com
---
Bentrokan antarwarga terjadi pada Sabtu (27/10) malam. Bentrokan ini bermula ketika pemuda dari kedua desa tersebut terlibat saling senggol di jalan raya. Dua pemudi asal Desa Agom yang sedang mengendarai sepeda motor, diganggu pemuda asal Desa Balinuraga, sehingga terjatuh dan mengalami luka-luka.
---
http://news.detik..com/read/2012/10/...if?nd771108bcj


Konflik ini bukan lah lagi sebuah konflik biasa, tapi sudah berupa kecenderungan provokasi untuk menghilangkan hak hidup dan penghidupan warga masyarakat Bali yang mendiami lahan lahan pemberian transmigrasi dimasa masa sebelumnya.

hanya dalam waktu 3 hari ekskalasi masa terjadi begitu besar yang kesemuanya menyerbu warga masyarakat Bali yang ada di Desa Bali Nuraga, tidak dapat dipastikan apakah kesemuanya adalah hanya warga Lampung atau gabungan dari warga suku lain yang sudah terprovokasi dan terhasut pemberitaan dan isu isu fitnah yang diarahkan secara beruntun kepada warga masyarakat Bali di Desa Bali Nuraga, baik lewat penyampaian perorangan dan lewat pemberitaan media masa. Penyerangan dan perusakan yang sangat brutal bahkan mengorbankan seorang kakek dan seorang gadis berumur 10 tahun, termasuk gadung sekolah.

Media nasional turut bertanggungjawab atas kesimpang siuran informasi yang disampaikan yang pada akhirnya memperparah potensi konflik yang seharusnya sudah bisa di redam dengan press liris dari Mabes Polri tentang penyebab konflik. Tapi sayangnya isu isu negatif dan fitnah yang diarahkan ke warga masyarakat Bali di Desa Bali Nuraga telah beredar luas dalam waktu singkat, penyerangan serempak terbesar terjadi pada Hari Senin 29 Oktober 2012 tidak dirinci dimulai dari pukul berapa konsentrasi masa penyerang mulai melakukan tindakan brutal tersebut, tapi yang bisa disaksikan saat ini adalah jatuhnya korban jiwa dan harta yang tidak terperikan.

sebuah KEBIADABAN nyata di PERADABAN MODERN, dari satu BANGSA yang terkenal akan KERAMAHANNYA. Kebiadaand an Kebrutalan yang dipicu oleh fitnah dan isu isu negatif yang diarahkan kepada satu komunitas masyarakat yang bahkan tidak sama sekali melakukan tindakan yang melanggar hukum atau mengancam masyarakat lainnya.

IRONI bagi sebuah BANGSA, yang kehilangan sifat dan sikap kemanusiaan nya.

kita tidak dapat hanya tinggal diam dan menyatakan Keprihatinan!!
tunjukan Aksi Nyata!!! Turun Ke Jalan!! Tuntut Ketegasan Pemerintah mengakomodasi perlindungan dan keamanan setiap masyarakat dan raykyat Indonesia dimanapun berada!

Ini bumi pertiwi, Ini Indonesia, bukan negara padang pasir, bukan negara bar bar, bukan negara miliki satu suku, bukan negara milik satu ras, bukan negara miliki satu golongan atau pun sama sekali bukan negara milik satu agama manapun!!

Ini Indonesia!! Ini NKRI!, berbhinneka tapi satu adanya!! Siapapun yang berupaya tidak menghormati keberagaman bangsa ini, dia adalah penghianat yang sesunggunya bagi Ibu Pertiwi.

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negeri bagi setiap orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia, yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dan setara untuk saling menjaga dan melindungi. BUKAN UNTUK SALING FITNAH!! Atas dasar kepentingan golongan suku, ras apalagi atas nama agama!!

NKRI berdasarkan Pancasila!! Pilar pilar dasar kebangsaan dan kenegaraan!! Pilar pilar dasar prinsip moralitas, etika sosial dan persatuan bangsa!

tidak ada satu pun dan sekalipun KEJAHATAN!!!! ANGKARA itu akan menang!!!! Karena hanya KEBENARAN lah yang akan menjadi pemenang, atas nama Tuhan Yang Maha Kuasa, atas nama IBU PERTIWI tumpah darah tercinta, atas nama BANGSA INDONESIA, NUSANTARA JAYA!! Semoga PARA ASURA (Kepribadian BIADAB dan TIADA BERADAB) itu musnah dari IBU PERTIWI.

bangkitlah PARA KSTRIA NUSANTARA, PARA ARYA dari tidur panjangmu!!!!

SATYAM EVA JAYATE!!! Pada saatnya hanya Kebenaran Yang Pasti Akan Menang
JAYA JAYA WIJAYANTI!!! Menang dan Menang untuk selamanya

 
KAMI KEHILANGAN, TAPI KAMI TIDAK AKAN DENDAM

sumber http://www.kaskus.co.id/thread/50933bd71cd719431000007d/tragedi-lampung-selatan-lets-pray-for-balinuraga/
READ MORE - Tragedi Lampung Selatan (Pray for Balinuraga)

Beredar Foto Setengah Bugil di Jembrana

Belakangan di masyarakat Jembrana beredar foto setengah bugil seorang perempuan yang diduga warga lokal. Foto disinyalir dijepret dengan kamera handphone tersebar di dunia maya hingga antarhandphone. Foto itu menyebar luas di masyarakat hingga di kalangan pegawai Pemkab Jembrana. Menurut sejumlah warga, oknum pada foto itu diduga bekerja di Pemkab Jembrana menjadi pegawai outsourching di salah satu Dinas di Pemkab Jembrana. Dari latar belakang, diduga foto itu diambil di dalam kamar dan jauh hari sebelumnya.

Foto ini menyebar di kalangan PNS di Pemkab Jembrana. Beberapa pegawai mengenali orang di dalam foto itu bekerja di salah satu dinas namun statusnya outsourching. ”Saya dengar dan pernah melihat foto itu, tapi dari mulut ke mulut dan melihat melalui handphone saja,” tukas seorang PNS di Pemkab Jembrana. Menurut mereka, apabila memang benar itu pegawai, harus ditindak agar tidak mencoreng nama instansi. Apalagi foto itu sudah beredar di kalangan masyarakat dan menjadi gunjingan di kalangan PNS karena menyangkut di lingkup Pemkab.

Dalam foto setengah bugil itu nampak perempuan bertubuh sintal itu menggunakan gaun namun di bagian dada sengaja dibuka. Sedangkan tangannya satu mengangkat gaun di bawah hingga nampak celana dalam warna hitam dan satu tangan lainnya berkacak pinggang. Diduga foto diambil orang lain dari depan dengan jarak dekat. Belum diketahui asal-usul foto tersebut hingga menyebar luas di masyarakat. Dari gunjingan sejumlah masyarakat, foto sengaja disebar karena ada dendam pribadi.

Inspektur pada Inspektorat Pemkab Jembrana Ketut Arimbawa mengaku baru menerima informasi tersebut. Selaku inspektorat pihaknya akan menelusuri kebenarannya. Jika memang benar itu pegawai Pemkab Jembrana akan ditindak sesuai peraturan. ”Tentu akan kita tindak lanjuti dan kita telusuri dulu informasi ini,” terangnya. (kmb26)

source : bali post
READ MORE - Beredar Foto Setengah Bugil di Jembrana

Anniversary YVCI ke 5 dan YVCI KG 1st

7 Juli 2012 kemarin, Adalah hari dimana YVCI (Yamaha Vixion Club Indonesia) merayakan hari jadinya yang ke lima dan juga YVCI KG (Chapter Gianyar - Bali) juga merayakan hari jadinya yang pertama, Acara diselenggarakan dengan meriah, acara yang diselenggarakan di Terminal Kebo Iwa - Ginyar ini dihadiri tidak hanya dihadiri oleh YVCI di Wilayah Bali , namun juga dihadiri dari berbagai Daerah lain seperti YVCI Lombok, YVCI Banyuwangi, YVCI Malang dan YVCI lainnya, selain dari anggota YVCI juga mendapat tamu yaitu dari beberapa Club maupun Komunitas Biker di Bali seperti BBC, BRIMOB, dan masih banyak lagi.

Dalam kegiatan tersebut dimeriahkan oleh adanya hiburan musik, joged bumbung, dan acara utama adalah pemotongan tumpeng oleh Gubernur YVCI  Bali.


Tamu yang pertama datang : 
Yamaha Vixion Club Indonesia Chapter Jembrana (YVCI-CJ)



 Acara Potong Tumpeng :

READ MORE - Anniversary YVCI ke 5 dan YVCI KG 1st

UNESCO menetapkan Subak Bali jadi warisan dunia

 
Siapapun pasti mengakui bahwa bali merupakan tujuan wisata dunia. Dan saat ini lengkap sudah dengan diperolehnya pengakuan persawahan Bali yang hijau subur dan memukau wisatawan jadi warisan budaya Dunia yang dikukuhkan oleh UNESCO. 
Pada sidang UNESCO ke-36 yang diselenggarakan di St Peterburg pada Jumat 29 Juni 2012 pukul 17.30 waktu setempat, badan organisasi ini mengetukkan palu dan mengesahkan Subak Bali sebagai warisan dunia bidang Cultural Landscape.
Indonesia telah melakukan perjuangan panjang selama 12 tahun untuk mengenalkan Subak pada organisasi dunia ini. Disamping itu, para wisatawan asing pun sudah mengakui Subak berkontribusi dalam indahnya persawahan di Bali.
Bupati Gianyar dan Badung yang hadir dalam perhelatan itu tampak gembira dan bertepuk tangan bersama 1000-an peserta sidang. Hadir juga dalam sidang, Dubes RI untuk Rusia Djauhari Oratmangun.
Bilamana anda nanti berlibur ke bali, maka mampirlah ke Ubud dan Badung untuk menikmati hijaunya persawahan nan indah disana. Bila UNESCO saja sudah mengakuinya, lalu bagaimana dengan kita sekalian ini?

Sumber : http://wahw33d.blogspot.com/2012/06/unesco-menetapkan-subak-bali-jadi.html
READ MORE - UNESCO menetapkan Subak Bali jadi warisan dunia

Pusat Informasi tentang Bali

Mungkin banyak yang ingin mengetahui tentang Bali, Mencari Pekerjaan di Bali, Mencari Tempat tinggal, kontrakan, kost-kostan, berikut ini saya tampilkan link yg menuju informasi dari masing kategori tersebut, link ini berada di Kaskus : 


Sementara sekian informasi yang dapat saya rangkum dan akan di update berikutnya....
READ MORE - Pusat Informasi tentang Bali

Data Penduduk dan Luas Wilayah Kecamatan Mendoyo tahun 2011

Kecamatan Mendoyo merupakan bagian dari 5 Kecamatan  yang berada dalam wilayah Kabupaten Jembrana dengan batas letak geografis sbb :
1.    Sebelah Utara berbatasan dengan hutan negara.
2.    Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut.
3.    Sebelah  Timur berbatasan dengan Kecamatan Pekutatan.
4.    Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Jembrana.
Kecamatan Mendoyo terdiri dari 10 Desa dan 1 Kelurahan, lokasi berurutan dari Timur ke Barat yaitu :
1.   Desa Yeh Sumbul dengan luas wilayah + 42,80 km2
2.  Desa Yehembang Kangin dengan luas wilayah +  45,79 km2
3.  Desa Yehembang dengan luas wilayah + 35,49 km2
4.  Desa Yehembang Kauh dengan luas wilayah + 20,31 km2
5.  Desa Penyaringan dengan luas wilayah + 51,12 km2
6.  Kelurahan Tegalcangkring dengan luas wilayah + 2,69 km2
7.  Desa Delodbrawah dengan luas wilayah + 22,34 km2
8.  Desa Pergung dengan luas wilayah + 21,00 km2
9.  Desa Pohsanten dengan luas wilayah + 30,50 km2
10.  Desa Mendoyo Dangin Tukad dengan luas wilayah + 3,14 km2
11.  Desa Mendoyo Dauh Tukad dengan luas wilayah +  19,31 km2

Adapun jumlah penduduk berdasarkan data Profil Kecamatan Mendoyo tahun 2011 sebanyak : 64,140 jiwa
Dengan jumlah masing-masing lingkungan sebagai berikut :
1.  Desa Yeh Sumbul
KK                   :   2.059
Laki-laki         :   3.542
Perempuan   :   3.545
Jumlah           :   7.087
2.   Desa Yehembang Kangin
KK                   :   1.295
Laki-laki         :   2.156
Perempuan   :   2.177
Jumlah           :   4.333
3.   Desa Yehembang
KK                   :   2.208  
Laki-laki         :   3.618  
Perempuan   :   3.848  
Jumlah           :   7.466
4.   Desa Yehembang Kauh
KK                   :   1.505  
Laki-laki         :   2.598
Perempuan   :   2.693  
Jumlah           :   5.291
5.   Desa Penyaringan
KK                   :   2.979
Laki-laki         :   4.845
Perempuan   :   5.050  
Jumlah           :   9.895
6.   Kelurahan Tegalcangkring
KK                   :   2.297
Laki-laki         :   3.749
Perempuan   :   3.734  
Jumlah           :   7.483
7.   Desa Delodbrawah
KK                   :      678
Laki-laki         :   1.155
Perempuan   :   1.129
Jumlah           :   2.284
8.   Desa Pergung
KK                   :   1.473
Laki-laki         :   2.515
Perempuan   :   2.527  
Jumlah           :   5.042
9.   Desa Pohsanten
KK                   :   19.54
Laki-laki         :   3.242
Perempuan   :   3.351   
Jumlah           :   6.593
10. Desa Mendoyo Dangin Tukad
KK                   :      876
Laki-laki         :   1.434
Perempuan   :   1.583  
Jumlah           :   3.017
11. Desa Mendoyo Dauh Tukad
KK                   :   1.715
Laki-laki         :   2.851
Perempuan   :   2.798  
Jumlah           :   5.649

sumber : Profil Kecamatan Mendoyo Tahun 2011
READ MORE - Data Penduduk dan Luas Wilayah Kecamatan Mendoyo tahun 2011

Postingan Lama